Skip to content

7 Kesalahan Tata Letak Teks yang Bikin Desain Terlihat Amatir

Meja desainer dengan cetakan halaman majalah dan alat ukur untuk memeriksa tata letak teks

Desain yang terlihat amatir sering kali bukan karena font-nya jelek. Masalahnya ada di cara teks ditata: spasi yang tidak konsisten, baris terlalu panjang, atau perataan yang dipaksakan. Tujuh kesalahan tata letak teks dalam desain berikut paling sering muncul di karya pemula, dan semuanya bisa diperbaiki tanpa mengganti font.

1. Membiarkan baris teks terlalu panjang

Mata pembaca butuh titik balik. Kalau satu baris teks membentang selebar halaman, mata harus menyapu jauh ke kiri setiap kali pindah baris, dan pembaca cepat kehilangan posisi. Untuk teks isi, jaga panjang baris sekitar 45 sampai 75 karakter. Di kolom majalah, angka ini terasa lebih pendek lagi karena pembaca duduk sambil memegang halaman.

Kalau ruang kolom terlalu lebar, tambah margin atau pecah jadi dua kolom. Jangan mengecilkan ukuran huruf hanya agar baris terasa pas, karena teks jadi sulit dibaca.

2. Spasi antarhuruf dan antarbaris yang asal-asalan

Dua pengaturan ini sering diabaikan pemula, padahal keduanya menentukan kenyamanan baca. Kerning mengatur jarak antarpasangan huruf, sedangkan tracking mengatur jarak keseluruhan. Pada teks berukuran kecil, tracking yang terlalu rapat membuat huruf menempel. Pada judul besar, tracking yang terlalu renggang membuat kata terpecah.

Kalau ingin memahami cara menyetelnya dengan benar, ada panduan mengatur kerning dan tracking untuk desain teks yang membahas kasus per kasus. Untuk teks isi, leading atau spasi antarbaris biasanya cukup 1,2 sampai 1,5 kali ukuran huruf.

3. Memakai terlalu banyak jenis huruf dalam satu halaman

Satu proyek cukup memakai dua keluarga font: satu untuk judul, satu untuk teks isi. Menambah font ketiga dan keempat membuat halaman terasa bising dan tidak punya suara. Kalau butuh variasi, manfaatkan berat dan kemiringan dari keluarga yang sama.

Untuk proyek yang butuh karakter kuat di judul, pahami dulu kapan sebaiknya memakai font display dibanding font teks. Font display memang dirancang untuk ukuran besar, bukan untuk paragraf panjang.

4. Memaksakan perataan justify pada kolom sempit

Perataan justify membuat tepi kiri dan kanan kolom rapi, tapi di kolom sempit hasilnya sering berupa celah putih menganga antarkata. Celah ini namanya rivers, dan mata pembaca tertarik ke sana sebelum membaca isinya. Di kolom sempit, rata kiri lebih aman karena spasi antarkata tetap wajar.

Kalau tetap ingin justify, aktifkan hyphenation supaya kata bisa dipotong dan spasi lebih merata. Periksa hasilnya per paragraf, jangan hanya melihat tampilan keseluruhan.

5. Hierarki yang tidak jelas

Pembaca harus bisa menebak mana judul, mana subjudul, dan mana isi hanya dari ukuran dan posisi. Kalau semua elemen teks hampir sama besar, halaman terasa datar. Buat jarak yang jelas antara tingkat hierarki: judul jauh lebih besar, subjudul sedang, isi paling kecil.

Panduan menentukan hierarki tipografi di desain grafis membantu menyusun urutan ini tanpa harus menebak-nebak. Hierarki tidak selalu soal ukuran; warna dan posisi juga bisa dipakai.

6. Teks yang menempel ke tepi kanvas

Teks tanpa ruang napas di tepi halaman terlihat terjepit. Beri margin yang cukup di semua sisi, terutama pada desain cetak yang nanti akan dipotong. Area potong bisa memakan beberapa milimeter dari tepi, jadi jangan menaruh teks penting terlalu dekat batas.

Pada desain digital, margin membuat teks tidak bertabrakan dengan tepi layar ponsel. Ukuran margin tidak harus sama di semua sisi, tapi konsisten di seluruh halaman.

7. Mengabaikan kontras antara teks dan latar

Teks abu-abu muda di atas latar putih memang terlihat elegan di mockup, tapi sering hilang saat dicetak atau dilihat di layar dengan cahaya rendah. Kontras yang rendah menyulitkan pembaca, terutama untuk teks berukuran kecil. Pilih warna teks yang cukup gelap terhadap latarnya, lalu uji hasilnya di layar lain atau cetak percobaan.

Untuk elemen dekoratif seperti teks pada foto, pastikan latar di belakangnya cukup tenang. Kalau fotonya ramai, tambahkan lapisan warna tipis atau pindahkan teks ke area yang lega. Ada kalanya foto perlu diolah dulu, misalnya dengan membuat foto menjadi kartun di Photoshop untuk keperluan ilustrasi, dan hasilnya bisa jadi latar teks yang lebih bersih.

Ringkasan

Tujuh kesalahan di atas muncul karena teks diperlakukan sebagai pelengkap, bukan bagian dari komposisi. Perbaiki panjang baris, spasi, jumlah font, perataan, hierarki, margin, dan kontras secara berurutan. Sebagian besar masalah akan selesai sebelum kamu mempertimbangkan ganti font sama sekali.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah teks rata kiri selalu lebih baik dari justify?

Tidak selalu. Justify cocok untuk kolom lebar seperti laporan atau buku, asalkan hyphenation aktif dan spasinya terkendali. Untuk kolom sempit, rata kiri umumnya lebih aman.

Berapa ukuran huruf ideal untuk teks isi?

Untuk cetak, ukuran 9 sampai 12 poin masih nyaman dibaca tergantung jenis huruf dan panjang baris. Untuk layar, sekitar 16 piksel ke atas lebih aman. Sesuaikan dengan jarak baca pembaca.

Apakah foto bisa dipakai sebagai latar teks?

Bisa, dengan syarat kontrasnya cukup. Pilih area foto yang tidak ramai, atau tambahkan lapisan warna semi transparan di antara foto dan teks. Uji dulu keterbacaannya di layar kecil.